Search in posts
Search in pages
Search in groups
Search in users
Search in forums
Filter by Categories
Announcements
Community
Entrepreneur
Internet
Motivation
Opportunity
People
Tips and Tricks
Cara Sukses Berbisnis Waralaba (Part 2)
01/02/2014
0

Pada artikel sebelumnya, kita telah mempelajari model perancangan bisnis yang tepat, yaitu model bisnis, skala usaha, lingkup produk dan juga lokasi. Keempat hal ini harus menjadi faktor pertimbangan sebelum berbisnis atau memilih waralaba. Dan ada pula faktor terakhir, yaitu tingkat kejenuhan pasar. Penetrasi pasar ditentukan oleh tingkat kejenuhannya. Semakin rendah derajat penetrasi, makin luas pula ruang sebuah perusahaan waralaba untuk membangun bisnisnya. Bila produk serupa telah banyak dipasarkan di suatu kawasan, maka besar tingkat kejenuhan konsumen sudah tinggi sehingga tidak menganggap suatu waralaba cukup unik dan menarik. Pada pasar yang sudah dibanjiri produk unggul, perlu strategi untuk menonjolkan keunikan produk agar masyarakat tertarik mencobanya.

Untuk itu, sebagai pemula dalam waralaba, kita harus belajar dari mereka yang telah berhasil. Pengalaman adalah guru paling berharga. Pernyataan tersebut bukan berarti menjelaskan bahwa setiap orang harus mengalami sesuatu dahulu sebelum memetik pelajaran. Kita semua dapat belajar dari pengalaman orang lain, bahkan akan lebih baik untuk mempelajari pengalaman-pengalaman pahit. Tidak perlu merasakan pailit terlebih dahulu untuk memahami arti kesuksesan, bukan?

Begitu pula dalam memulai bisnis waralaba. Mengumpulkan informasi terkait bisnis yang direncanakan harus termasuk mempelajari jejak keberhasilan usaha waralaba yang sudah ada. Berdasarkan peringkat Top Global Franchises versi Franchise Direct, perusahaan berikut berada di posisi lima teratas yang bisa dijadikan teladan dalam merencanakan bisnis waralaba, yaitu:

1)      Subway (Amerika Serikat) – perusahaan waralaba sandwich dan bagel

2)      7 Eleven (Amerika Serikat) – waralaba toko kelontong

3)      McDonald’s (Amerika Serikat) – waralaba makanan cepat saji

4)      Kenthucky Fried Chicken (Amerika Serikat) – waralaba makanan cepat saji ayam

5)      Burger King (Amerika Serikat) – waralaba makanan cepat saji

Jumlah gerai waralaba di Indonesia bertambah dengan pesat. Sebagai contoh, pertumbuhan paling cepat dan kelihatan adalah 7 Eleven. Bila Anda tinggal di Jakarta, perhatikan saja pertambahan gerai waralaba yang dimiliki Seben & I Holdings Co. ini. Pada 2013, 7 Eleven menargetkan membuka 80 sampai 90 gerai baru di Jakarta, seperti dilansir beritasatu.com. Sejak masuk ke Indonesia pada 2005, ditargetkan 1000 gerai akan hadir di Jabodetabek dalam waktu sepuluh tahun.

Dalam Peraturan Menteri Perdagangan RI No.7 tahun 2013, disebutkan pada pasal 5 bahwa pemberi waralaba atau penerima waralaba jenis usaha restoran, rumah makan, bar/rumah minum dan kafe telah yang telah memiliki gerai/outlet sebanyak 250 unit, harus mewaralabakan atau bekerjasama dalam penyertaan modal bila membuka gerai baru. Sejumlah minimal 30-40 persen investasi harus dimiliki pihak luar, diutamakan pemilik usaha kecil dan menengah daerah setempat.

Regulasi tersebut tentu bermaksud melindungi kelangsungan usaha pedagang kecil yang dimiliki masyarakat seperti warung. Sayangnya, perizinan pembukaan gerai waralaba tidak dilaksanakan secara selektif. Belum ada yang menjamin bahwa gerai waralaba yang ada di Jabodetabek maupun kota lainnya telah mengantongi izin. Kenyataannya, waralaba sangat menjamur sehingga diperlukan audit terhadap waralaba secara berkala.

Kehadiran waralaba sukses seperti 7 Eleven memang tidak salah, bahkan sangat baik untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keprihatinan timbul ketika gerai tersebut justru menggantikan lokasi usaha kecil atau berada di dekat banyak lokasi dagang pengusaha kecil. Lantas, bagaimana tidak makin banyak saja pengangguran di tanah air? Apakah masuk akal pertumbuhan ratusan gerai waralaba dalam waktu kurang dari lima tahun, bila itu benar-benar menyertakan modal pengusaha kecil? Tidak ada yang benar-benar tahu.

Peran Anda bila berminat berbisnis waralaba, yaitu mengedepankan kepentingan pengusaha kecil. Masih banyak lokasi lain yang potensial untuk dijadikan gerai. Tidak perlu menunggu teguran pemerintah, coba kita berempati bagaimana rasanya menjadi wong cilik yang terkadang tidak punya pilihan. Sekedar hidup, sekedar makan. Jadi, kepedulian mungkin menjadi poin paling penting dari seluruh perencanaan waralaba yang telah dipaparkan di atas. Selamat berbisnis!


Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *