Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in comments
Search in excerpt
Search in posts
Search in pages
Search in groups
Search in users
Search in forums
Filter by Categories
Announcements
Community
Entrepreneur
Internet
Motivation
Opportunity
People
Tips and Tricks
Membentuk Mental Kuat Dalam Berbisnis
April 30, 2014
0

Membangun bisnis sama seperti membangun sebuah rumah, butuh fondasi yang kuat supaya rumah tersebut berdiri dengan kokoh. Karena itulah dalam membangun bisnis, mental yang kuat pun diperlukan agar bisnis tersebut dapat berjalan dengan baik. Tetapi kadang kala banyak hal yang membuat semangat kita menjadi kendur entah itu dikarenakan masalah modal, masalah operasional, pegawai yang tidak bisa dipercaya, klien yang kabur dan berbagai macamnya lagi. Di situasi-situasi macam itulah mental yang kuat diperlukan supaya bisnis bisa bertahan, berikut adalah beberapa faktor yang membentuk mental kuat dalam berbisnis:

1. Berpikir positif. Berpikir positif dapat dilakukan dengan cara terus menerus menanamkan kalimat  positif untuk diri sendiri misalnya jika selama ini kita menilai diri sendiri tidak mampu untuk menjalankan bisnis, cobalah mengucapkan kata “Saya bisa dan saya mampu” setiap kali pikiran negatif Itu datang. Cara demikian sangat membantu untuk mengenyahkan keraguan dan membiasakan kita berpikir positif tentang diri sendiri.

2. Tidak mudah menyerah. Setiap bisnis apapun baru akan berhasil jika kita tekun melakukannya dan tahan banting saat mengelolanya. Pupuklah sikap ini dengan cara menegaskan dalam diri kita sendiri untuk selalu bangkit  dan kembali berlari setiap kali tertimpa masalah dengan mengatakan pada diri sendiri, “Saya Bisa”.

3. Mau selalu belajar. Kita perlu belajar dari siapapun, terutama dari pesaing kita. Bacalah majalah bisnis, ikuti berita, perkembangan mode dan lakukan riset pasar untuk mengetahui barang apa yang sedang dibutuhkan oleh banyak orang. Berbisnis memang harus menjadi ajang  pembelajaran yang berkesinambungan.

4. Keberanian mengambil resiko. Berani mengambil resiko berarti berani keluar dari zona nyaman. Banyak pengusaha yang mengalami jatuh bangun di tahun-tahun awal bisnisnya. Itu adalah resiko yang harus dijalani oleh mereka, namun mereka tidak berputus asa melainkan mereka memandang resiko itu sebagai jalan untuk maju dan menjadikannya sebagai tantangan bukan penghalang baginya.

5. Kemampuan bersaing dengan sehat. Kita tidak perlu menjatuhkan lawan bisnis dengan cara menjelek-jelekan mereka, menyebar desas desus atau fitnah yang tidak  diketahui asal usulnya.

6. Keberanian mengemukakan pendapat. Tanpa keberanian, ide-ide kita akan sulit diterima. Banyak pengusaha yang awalnya diragukan banyak orang karena idenya dianggap tidak lazim, namun mereka tetap yakin dengan pendapatnya tanpa memperdulikan opini orang lain sehingga lama-kelamaan banyak orang yang akhirnya percaya dengan ide-ide mereka.

7. Kemampuan bekerja dalam tim. Sebagai pengusaha, kita akan bekerja sama dengan banyak orang baik itu keluarga, karyawan, klien, supplier, media atau lainnya. Untuk dapat bekerja sama dengan baik dalam sebuah tim kita perlu mengenali kelebihan serta tipe kepribadian mereka agar  kita bisa menempatkan setiap orang dalam posisi yang sesuai. Memilih dan menempatkan orang yang tepat akan membuat bisnis kita berjalan optimal.

8. Kemampuan menangani masalah. Bekerja dengan banyak orang yang memiliki watak berbeda-beda sangat potensial memunculkan banyak masalah. Oleh karena itu kamu perlu mempelajari teknik-teknik mengendalikan masalah, keterbukaan dan cara berkomunikasi yang baik agar setiap masalah dapat diselesaikan dengan baik.

Cara Inovatif Berhubungan Dengan Customer
March 23, 2014
0
Connect With Your Customers

Sedang membuat marketing plan untuk mengembangkan bisnismu dan mencari customer baru? Daripada hanya bergantung pada media tradisional seperti televisi, radio, koran dan majalah, sudah saatnya kamu mengalokasikan sebagian besar budgetmu pada jenis media yang baru seperti media sosial. Di era teknologi ini, untuk mendapat sekaligus menjaga customer memerlukan strategi marketing inovatif. Karena itulah pertimbangkan 3 faktor di bawah ini sebelum kamu membuat marketing plan untuk bisnismu:

1. Memanfaatkan trend media yang baru. Sekarang adalah saatnya untuk mengintegrasikan media tradisional dengan cara baru untuk menjangkau customer. Sebagai contoh kamu bisa menggunakan iklan TV cable untuk meningkatkan brand awareness sekaligus kredibilitas bisnismu dan iklan di koran untuk menjangkau calon customer dengan promosi spesifik. Namun kedua teknik tersebut akan menghasilkan hasil yang lebih baik bila dikombinasikan dengan website perusahaan yang interaktif, di mana customer bisa mendapatkan info tentang perusahaanmu sekaligus membaca testimonial positif dan rekomendasi dari website pihak ketiga. Jika kamu secara reguler menggunakan iklan radio, kombinasikanlah dengan promosi melalui media sosial yang memiliki konsep inovatif dan fun dimana mereka bisa berinteraksi secara langsung. Dengan cara ini customer tidak akan jenuh dan menanti bagian selanjutnya dari kampanye iklanmu.

2. Komunikasi one-on-one dengan customer. Banyak yang bilang semua yang lama sekarang menjadi baru lagi dan itulah yang terjadi dalam strategi membangun interaksi dengan customer. Customer yang selalu mengevaluasi semua transaksinya mau membuat keputusan yang aman dan tepat. Jadi mereka akan memilih untuk mengeluarkan uang pada bisnis, produk atau jasa yang mereka percaya bisa memberikan yang terbaik mulai dari customer service, garansi harga murah dan kenyamanan berbelanja.

Buatlah kesempatan untuk berkomunikasi secara langsung dengan  customer. Bila kamu seorang retailer, ini adalah waktu yang tepat untuk mengadakan demonstrasi produk, workshop dan event lainnya. Adakan juga customer appreciation event untuk membantumu berbagi informasi bermanfaat yang bisa diadakan di kantormu atau off-site. Sekali kamu sudah berhadapan langsung dengan customer, kamu bisa mempunyai kesempatan untuk berkomunikasi dengan cara yang tidak bisa dicapai hanya dengan menggunakan media tradisional.

3. Customer ingin berinteraksi dan dimengerti. Interaksi melalui dialog online akan membantu customer merasa memiliki ikatan dengan bisnis atau brandmu. Kunci untuk membangun sebuah hubungan yang positif dengan customer adalah dengan mendemonstrasikan bahwa perusahaanmu peduli pada hal yang sama dengan mereka. Ajaklah customer untuk berbicara padamu atau tentang produkmu, pokoknya buat mereka bisa menyuarakan pendapat mereka. Ada banyak cara untuk berkomunikasi secara online dengan customermu, kamu bisa membuat akun social media untuk bisnismu atau menambah elemen interaktif di websitemu dimana customer bisa berkomunikasi denganmu atau satu sama lain.

5 Kebiasaan Yang Berdampak Buruk Pada Bisnismu
March 19, 2014
0
Bad Habits in Business

Apakah kamu selalu meminum kopi yang sama tiap pagi atau duduk di kursi yang sama di meeting? Kebiasaan seperti ini memang tidak berbahaya namun ada banyak kebiasaan lain yang tanpa disadari berdampak buruk pada produktivitas bisnismu.

Kebiasaanmu sehari-hari terbentuk dari pengulangan dan frekuensi keseringan. Kebiasaan itu membentuk dirimu dan masalahnya banyak orang terus mengulang kebiasaaan buruk yang menghalangi mereka untuk meraih sukses. Berikut adalah 5 kebiasaan buruk bagi bisnismu yang harus dihentikan:

1. Gagal mendelegasi. Kenyataannya kamu tidak bisa melakukan semuanya sendiri dalam berbisnis. Tentu kamu bisa ngotot bekerja selama 80 jam per minggu tapi kemungkinan besar kamu tidak akan bertahan dengan tempo kerja seperti itu. Karena itu carilah orang terbaik yang bisa kamu pekerjakan, delegasikanlah tugas yang cocok dengan keahlian mereka dan percayalah mereka akan melakukan pekerjaan itu dengan benar. Dengan begitu kamu bisa fokus pada pekerjaanmu sendiri dan perusahaanmu akan berjalan lebih lancar.

2. Menghambat proses pengambilan keputusan. Sebagai seorang pengusaha tentu kamu suka untuk mempunyai kontrol, namun bila semua keputusan harus diambil melalui dirimu itu jelas akan menghambat proses bisnismu, selain itu pekerja dan pelangganmu pun akan merasa frustasi. Pekerjakanlah orang yang tepat dan pastikan mereka semua tahu garis besar dan tujuan bisnismu sehingga bisnismu bisa berkembang tanpa perlu micro-management darimu.

3. Bersikap reaktif dibandingkan proaktif. Memiliki visi masa depan adalah kunci kesuksesan bisnismu, sayangnya banyak wirausaha yang tidak memiliki rencana ke depan. Bila kamu sudah memiliki tujuan, kamu bisa menciptakan kebiasaan yang akan memperkuat tujuan tersebut dan membawamu ke jalan untuk mencapainya.

4. Melakukan aktivitas yang tidak produktif. Mengecek email berkali-kali dan menghabiskan waktu bermain Facebook adalah contoh kegiatan yang menyita waktu dan tidak produktif. Ciptakanlah kebiasaan untuk fokus pada satu pekerjaan dan berhenti multitasking dengan kegiatan yang kurang produktif. Berhenti mengecek email berkali-kali tiap harinya dan hindari akun media sosial sebisa mungkin bila kamu sedang mengerjakan hal yang penting.

5. Rasa takut. Rasa takut adalah musuh terbesar semua orang untuk maju dan berkembang. Takut pada kegagalan, membuat keputusan dan menyinggung orang lain bisa mengurangi produktifitas bisnismu. Terlalu memfokuskan diri pada rasa takut akan menyita waktu dalam pengambilan keputusan dan pada akhirnya akan menghambat bisnismu untuk mencapai tujuan.

Bila kamu mengenali kebiasaan-kebiasaan di atas dalam bisnismu, kamu harus melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Mulailah mengevaluasi situasimu dan tulis catatan tentang kebiasaan-kebiasaan yang ingin kamu hilangkan, lalu buatlah tujuan jangka pendek ataupun panjang yang akan membantumu untuk mengubah kebiasan negatif tersebut menjadi positif. Jangan lupa untuk meninjau tujuan tersebut tiap minggunya supaya kamu yakin bisa mencapainya.

Apa Kamu Sudah Siap Untuk Keluar Dari Pekerjaanmu?
March 15, 2014
0
Are you ready to quit your job?

Sebelum kamu memutuskan untuk keluar dari pekerjaanmu, apa kamu sudah yakin dengan kemampuanmu? Apa keadaan keuanganmu sudah cukup stabil untuk menyokong bisnismu sekarang? Apa kamu sudah siap dengan semua resiko yang harus dihadapi setelah memutuskan untuk keluar dari pekerjaanmu?

Kita semua tahu keluar dari pekerjaan dan menjalankan bisnis dengan konsep yang belum diuji beserta keuntungan yang belum stabil adalah sebuah resiko besar. Namun banyak wirausaha yang tetap nekat menjalankannya karena komitmen mereka pada bisnis yang sudah dibangun. Dan bagi mereka yang ingin mendapatkan investor, meninggalkan pekerjaan adalah sesuatu yang wajib dilakukan sebagai jaminan pada investor-investor itu bahwa kamu akan fokus sepenuhnya pada bisnismu.

Bila kamu masih belum yakin untuk tetap bekerja sambil menjalankan usahamu atau meninggalkan pekerjaanmu sepenuhnya. Berikut adalah empat langkah yang bisa kamu lakukan sebelum mengambil keputusan. Sekaligus faktor yang bisa menjadi indikator apakah kamu sudah mampu berkomitmen seratus persen pada bisnis yang kamu jalankan atau kamu harus kembali lagi ke garis awal.

1. Kumpulkan pernyataan keuangan. Kamu setidaknya harus membuat 3 dokumen pernyataan keuangan untuk bisnismu: pernyataan untung dan rugi, neraca keuangan dan pernyataan cash flow. Dokumen pertama akan menunjukkan apa kamu menghasilkan uang atau sebaliknya, sedangkan neraca keuangan akan memberimu info seberapa banyak uang yang kamu punya dan dokumen yang terakhir akan membuatmu tahu dari mana saja sumber uangmu.

2. Membuat prakira kinerja bisnis. Dengan dokumen pernyataan keuangan yang sudah terkumpul, buatlah prakira yang realistis tentang kinerja bisnismu tiap bulannya. Kamu perlu tahu berapa banyak uang yang akan kamu hasilkan dan keluarkan. Saat membangun bisnis, kamu perlu memasukkan faktor pertumbuhan sales beserta pengeluaran tambahannya. Hindari prakira yang terlalu optimis dan berusahalah serealistis mungkin. Karena pada umumnya para wirausaha amatir cenderung untuk terlalu optimis dengan kinerja dan penghasilan mereka.

3. Hitung pengeluaran pribadimu. Saat kamu berhenti dari pekerjaanmu, kamu tentu ingin membuat bisnismu terus berjalan namun jangan lupa menghitung pengeluaran pribadimu juga. Buat daftar pengeluaran bisnismu seperti gaji, biaya travel dan pengeluaran lainnya bagi dirimu dan pegawai yang bekerja untukmu. Lupakan dulu pengeluaran yang bisa dipikirkan di masa depan seperti asuransi kesehatan atau peralatan baru, karena hal tersebut tidak relevan dengan tujuanmu yang sekarang yaitu keluar dari pekerjanmu.

4. Meminta second opinion. Sebelum kamu melangkah ke level selanjutnya, sebagai wirausaha kamu harus meminta pendapat pada orang lain. Mungkin kamu bisa bertanya pada rekan kerja atau teman yang kamu percayai sekaligus kompeten di bidang yang kamu geluti. Meminta pendapat mereka sangatlah penting supaya mereka bisa memberi saran yang objektif tentang rencana dan proyeksi keuanganmu, untuk meyakinkan bahwa kamu tidak terlalu optimis dan berlebihan dalam melihat prospek masa depan bisnismu.

4 Cara Membuat Perusahaanmu Yang Dulu Menjadi Rekan Bisnis
March 13, 2014
0
Turn Your Employer Into an Ally

Memilih untuk keluar dari pekerjaanmu dan menjalankan bisnismu sendiri adalah sebuah resiko, tapi prosesnya akan lebih mudah bila kamu memilih untuk memulai bisnis di industri dimana kamu sudah memiliki pengetahuan, koneksi dan kredibilitas. Karena itu perusahaan yang kamu tinggalkan bisa menjadi aset ataupun rintangan bagi usaha barumu, tergantung dari bagaimana kamu menjaga hubungan baik dengan mereka.

Di tahun 2009, Ian McAfee meninggalkan pekerjaannya di perusahaan forex ternama untuk memulai usaha di industri yang sama. Dengan modal kurang dari 15 ribu dollar, Ian dan kedua partnernya memulai pekerjaan Shift Forex, sebuah perusahaan yang menyediakan jasa konsultan untuk perusahaan forex. Di tahun pertama bisnisnya, Shift Forex mendapatkan pendapatan lebih dari 200 ribu dolar. Ian menyatakan bahwa sebagian besar porsi kesuksesannya itu dikarenakan hubungan baiknya dengan perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya dan dia tidak sendiri.

Berikut adalah beberapa cara untuk membuat perusahaanmu yang dulu menjadi aset untuk meraih kesuksesan:

1. Tunjukan respect. Kamu ingin perusahaanmu tahu bahwa saat kamu bekerja kepada mereka, kamu melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Dengan kata lain, tidak bercerita kepada klien, supplier atau kolegamu tentang usaha barumu sampai kamu sudah resmi keluar dari sana. Jika manajemen perusahaanmu mendengar tentang usaha barumu dari customer mereka, kemungkinan besar hubungan kalian akan berakhir dengan buruk. Sebelum keluar, kamu sebaiknya membatasi aktivitasmu pada market research, membuat strategi bisnis dan mengumpulkan modal.

2. Menceritakan rencanamu saat keluar. Saat pemilik dan manager perusahaan tempatmu bekerja mendengar bahwa kamu akan pergi untuk memulai bisnis di industri yang sama, mereka akan merasa khawatir kamu akan mengambil customer mereka dan menyediakan jasa yang serupa. Jelaskanlah rencanamu pada bosmu, senior executive atau pemilik perusahaan sehingga mereka tidak merasa terancam dengan usaha barumu. Mereka tentu akan tetap merasa bahwa kamu akan berkompetisi dengan mereka, namun dengan kejujuranmu kamu sudah menunjukkan integritasmu pada mereka. Selain itu bila mereka menolak dengan keras rencanamu dan percaya bahwa mereka memiliki hak hukum untuk mencegah bisnismu, kamu akan mendapatkan kesempatan untuk berkompromi dan bernegoisasi dengan mereka.

3. Menawarkan diri untuk membantu dalam masa transisi. Kamu mungkin mempunyai peran penting dalam perusahaanmu sebelumnya dan perlu waktu untuk mencari penggantimu. Sebelum kepergianmu, kamu bisa menawarkan diri untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertentu untuk jangka waktu yang sudah ditentukan sebagai konsultan yang dibayar. Walaupun mungkin mereka akan menolak tawaranmu, tapi itu akan memberikan kesan bahwa kamu peduli pada perusahaanmu dan ingin tetap menjalin hubungan yang baik di masa depan.

4. Meminta bantuan mereka. Keuntungan utama bila kamu meninggalkan perusahaanmu dengan baik-baik adalah kamu bisa meminta perusahaanmu untuk membantu bisnis barumu. Mereka bisa memberikan referensi, klien atau kesempatan menguntungkan lainnya. Ide bisnis pertama Ian McAfee adalah membantu reseller untuk perusahaan tempat dia bekerja sekaligus kompetitornya dengan nasihat untuk bidang marketing dan sales. Dia juga meminta koleganya yang dulu untuk memperkenalkannya pada reseller yang ingin meningkatkan usaha marketing dan sales mereka. Karena kepergiannya yang baik, perusahaan tempatnya bekerja menjadi nyaman untuk mempercayainya walaupun usaha baru Ian beekerja dengan kompetitor mereka.